Pecandu Narkoba Harus Diperlakukan sebagai Penderita Penyakit Kronis Kambuhan

15 Des

“Adiksi narkoba tidak boleh lagi diperlakukan sebagai kelainan mental, tetapi sebagai chronic relapsing disease, sama seperti Hipertensi dan  penyakit lain yang membutuhkan pengobatan.”

Kecanduan narkoba harus diperlakukan sebagai penyakit kronis kambuhan agar penggunanya bisa sembuh dengan baik, dan tak perlu dicap jelek.

“Adiksi narkoba tidak boleh lagi diperlakukan sebagai kelainan mental, tetapi sebagai chronic relapsing disease, sama seperti Hipertensi dan  penyakit lain yang membutuhkan pengobatan,” kata Erniawati Lestari, Kepala Seksi Fasilitas Rehabilitasi Pemerintah Badan Narkotika Nasional, dalam sebuah seminar tentang Hari AIDS Sedunia di Ciloto, Bogor, hari ini.

Adiksi narkoba menyebabkan perubahan struktur dan fungsi otak dan merusak sistem saraf. Sebagai penyakit kronis,  penyembuhan adiksi narkoba membutuhkan waktu yang lama dan tidak bisa  sembuh total.

“Istilahnya bukan sembuh tapi pulih atau recovery, dan proses recovery ini berlangsung seumur hidup,” katanya.
 
Jika adiksi narkoba sudah dikategorikan sebagai penyakit kronis maka tidak semestinya penderitanya mendapat stigma dan diskriminasi yang justru akan mempersulit proses pemulihan.

Erniawati mengatakan penelitian menemukan 60 persen pengguna narkoba  mendapat perlakuan yang berbeda, termasuk dari anggota keluarganya sendiri dan 46 persen masyarakat mengaku takut terhadap pengguna narkoba.

Hal ini menurutnya akan membuat pengguna narkoba menutup diri dan enggan mencari pertolongan dari pusat rehabilitasi. Mereka cenderung kembali pada komunitas sesama pengguna narkoba yang sudah pasti akan menerima  mereka kembali.

Pemulihan kecanduan juga sering menjadi semakin rumit karena hampir separuh dari anggota keluarga cepat menyerah dengan ketergantungan pengguna zat psikoaktif.

“Makanya pada pecandu narkoba yang perlu diterapi itu bukan cuma  pecandunya, tetapi keluarganya, karena pecandu membutuhkan dukungan  sosial yang konstan,” katanya.

Pada pengguna narkoba, menurutnya, stres karena menyembunyikan  ketergantungan zak psikoaktif atau rasa malu karena stigma bisa  memperburuk kondisi fisik dan mental seorang pecandu.
 
Keluarga disebutnyaadalah pagar paling utama dalam membentengi  seseorang agar tidak terjerumus pada ketergantungan narkoba dan agar  bisa lepas dari ketergantungan tersebut.

“Tidak mudah untuk lepas dari narkoba, tidak cukup mengandalkan obat-obatan dan detoksifikasi,” ungkapnya.

Erniawati mengatakan pemberian label kepada pecandu seperti “junkie”,  “addict” atau “abuser” juga akan membuat mereka semakin menutup diri.
 
Berbeda dengan jenis narkoba yang banyak digunakan  beberapa tahun lalu yang memberi kenyamanan semu kepada penggunanya,  narkoba yang banyak beredar sekarang justru bersifat sebagai stimulan yang menstimulasi semua organ tubuh, termasuk libido.

“Makanya pada kalangan pencandu sekarang sering juga dilakukan seks  tidak aman, karena yang mereka konsumsi adalah zat stimulan, makanya  meskipun penularan HIV dari pemakaian jarum suntik bergantian turun,  penularan dari seks tidak aman malah naik,” kata Ernawati.

BNN memperkirakan pada 2008 ada 3,1-3,2 juta pengguna narkoba di Indonesia yang menyebabkan kerugian sosial ekonomi sebesar Rp32 triliun  per tahun.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: